Hari yang paling ditunggu-tunggu setiap insan, terutama pelajar, telah tiba. Ya, akhir pekan. Seperti kebanyakan renaja lainnya, Raka dan Riki-Si Kembar yang selalu tidak akur-juga menikmati akhir pekan mereka. Sayang, akhir pekan kali ini tak seindah dan selancar akhir pekan yang dulu-dulu. Mereka ditilang polisi karena kebut-kebutan di jalan raya dan menyenggol seorang polisi. Dasar nakal! Alhasil, orang tua mereka dipanggil dan sebagai hadiah mereka tidak boleh ke luar rumah selain ke sekolah dan akan diantar-jemput. Dengan serta-merta, mereka menolak mentah-mentah keputusan sepihak yang dianggap tidak adil itu. Tapi, apa boleh buat. Keputusan orang tua tidak dapat diganggu gugat (juri kali!). Sebagai dua orang anak yang masih dianggap, mereka hanya bisa pasrah.
Di belakang rumah mereka terdapat sumur tua. Konon, sumur tersebut dapat membawa kita ke dunia lain. Kita hanya bisa ke dunia tersebut jika sumur itu berkehendak demikian. Tidak masuk akal memang. Tapi, seperti itulah yang diceritakan almarhum kakek Raka dan Riki.
Suatu hari, Riki duduk termangu di atas sumur tua itu. Ia menengadah ke langit. Entah ilusi atau bukan, ia merasa sesuatu menyentuh lengan kirinya dan perlahan-lahan menariknya. Saat ia sepenuhnya sadar, ia melihat sesuatu seperti tentakel besar dan panjang sedang berusaha menariknya ke dalam sumur. Riki pun berusaha melepaskan tangannya dari benda berlendir dan lengket di tangannya.
Seakan mengetahui mangsanya berusaha melepaskan diri, tentakel tersebut semakin mempererat lilitannya di tangan Riki menarik Riki. Alhasil, Riki pun tertarik masuk. Namun, ia masih mencoba menyelamatkan diri. Tangan kanannya memegang mulut sumur.
“TOLONG!” teriak Riki.
Teriakannya mendatangkan Raka. Raka pun segera menarik Riki keluar. Saat itu, Cuma mereka berdua di rumah. Orang tua mereka sedang pergi entah kemana dan mengunci mereka dari luar. Malang, usaha mereka sia-sia. Tentakel itu begitu kuat sehingga dapat menarik Si Kembar tersebut.
Tiba-tiba, secercah sinar menyilaukan mata mereka. Sedetik kemudian, mareka terhempas ke tanah yang penuh lumpur. Saat itulah mereka melihat ‘benda’ yang menarik mereka tadi. Ternyata, ‘benda’ tersebut adalah seekor gurita raksasa seperti pada film kartun anak-anak Peter Pan. Aneh, gurita kok di darat? Bukannya ada di laut? Tapi, Raka dan Riki tak mempermasalahkan itu semua. Yang terpenting adalah, bagaimana caranya agar mereka bisa bebas dari gurita kuat nan ganas ini.
Sungguh beruntung mereka. Tak lama kemudian, beberapa penduduk sekitar datang dan menyerang Si Gurita. Perlahan tapi pasti, Si Gurita tersebut menenggelamkan diri kembali ke dalam lumpur. Entah bagaimana caranya, namun itulah kenyataannya.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya seorang gadis yang sepertinya sebaya dengan mereka.
“Ya, kami baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong kami,” jawab Raka sebagai anak yang paling tua (maksudnya yang keluar duluan).
Gadis itu tersenyum, kemudia melanjutkan, “Perkenalkan. Namaku Louren.”
“Aku Raka dan ini kembaranku, Riki. Ngomong-ngomong, ini dimana, ya?”
“Maaf, aku lupa. Selamat datang di Acraeda,” ucap Louren.
“Ac… Acra apa, ya?” tanya Riki bingung.
“Acraeda. A-C-R-A-E-D-A. Acraeda,” terang Louren tegas. “Penduduk Acraeda disebut Acraedos, sedangkan bahasa Acraeda disebut Acraedes. Tapi, bahasa itu sudah tidak digunakan lagi sejak ratusan tahun silam. Hanya keluarga kerajaan saja yang wajib mempelajari bahasa Acraedes. Kalian sendiri berasal dari mana?”
“Dari Bumi. Oh iya, tadi kamu bilang ‘kerajaan’. Jadi, Acraeda ini merupakan kerajaan, begitu?” tanya Riki.
“Kamu benar. Sayang, saat ini Kerajaan sedang mengalami musibah.”
“Maksud kamu?” Kali ini Raka yang bertanya.
“Ya. Raja dan Ratu hanya dikaruniai satu keturunan. Seorang putri mahkota yang cantik jelita, baik, ramah, dan penolong. Rakyat sangat menyukainya. Bulan depan, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-160, ia…”
“KE-160?!” teriak Raka dan Riki, kaget.
“I… Iya. Memangnya ada yang salah?” balas Louren, heran sekaligus kaget.
“Ya iyalah. Putri mahkotanya aja udah 160 tahun apalagi Raja ama Ratunya?! Tapi, ngomong-ngomong, umur kamu berapa sih?”
“Ehm… sebentar lagi aku juga ulang tahun yang ke-160,” jawab Louren polos.
“HAH?! 160 JUGA?! Ini dunia apaan sih? Kok nggak masuk akal banget?” ujar Riki.
“Memangnya umur kalian berapa? Sepertinya kita sebaya, deh.”
“Umur kami baru 16 tahun,” jawab Raka.
“Sepertinya 1 tahun di Acraeda sama dengan 10 kali tahunnya Bumi. Setidaknya, begitulah kesimpulanku saat ini. Mungkin jika kalian berada di Acraeda umur kalian akan sama sepertiku, 160 tahun.”
“Sudahlah. Tidak penting kalau kita ngebahas it uterus. Lagian, kamu juga belum selesai bercerita. Benar begitu, Louren?” ungkap Riki.
Louren pun melanjutkan ceritanya. Ia bercerita bahwa seminggu yang lalu Sang Putri yang dikenal bernama Aurel dikutuk menjadi ubur-ubur. Ia hanya bisa diselamatkan bila lehernya dikenakan kalung bermatakan permata dan bertabur tetesan embun pagi. Konon, kalung itu berada di pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Delops. Delops berarti ‘mati’ (menurut kamus bahasa Acraedes yang dimiliki Louren, tentunya).
Raja berjanji, barangsiapa yang bisa menyelamatkan putrinya, maka ia akan diangkat menjadi menantunya. Sudah banyak pemuda yang mencoba, baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Namun, tak ada yang berhasil. Mereka semua terjebak di Danau Delops. Usut punya usut, walaupun kita jago berenang, kita tetap akan tenggelam di danau tersebut. Jadi, untuk mendapatkan kalung tersebut, mereka menggunakan lilin Babylon yang dapat mengantar kita hanya ke pulau itu. Tapi, syaratnya, kita juga harus berkonsentrasi penuh. Kita harus memusatkan pikiran kita hanya ke pulau itu, tidak boleh yang lain. Karena jika tidak, kita akan tercebur ke danau dan mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada dunia.
Tak lama kemudian, Louren seakan menyadari sesuatu. Ia memandang bergantian ke arah mereka berdua. Dari Raka ke Riki, kemudia ke Raka lagi. Begitu seterusnya hingga ia akhirnya menyeletuk, “Aku ingat sekarang! Ya, tepat seperti ramalan. Akhirnya, Putri Aurel akan selamat.”
“Memangnya kenapa?” tanya Raka dan Riki bersamaan.
“Menurut peramal, Putri Aurel akan diselamatkan oleh dua orang pemuda yang berasal dari dunia lain. Dan pemuda itu adalah kalian. Kalian berasal dari Bumi, dunia yang terpisah dari dunia kami. Aku mohon, selamatkan Putri Aurel,” jelas Louren.
Untuk beberapa saat, Raka dan Riki berdiskusi. Selang beberapa menit, mereka pun memutuskan bahwa mereka akan menolong Putri Aurel. Louren senang bukan main. Ia juga mengusulkan agar misi penyelamatan ini dilaksanakan besok. Dan, misi pun dimulai.
☼☼☼
Fajar telah bangun dari tidurnya yang lelap. Sudah tiba saatnya bagi Raka dan Riki untuk menapaki kerikil-kerikil tajam yang menanti mereka.
“Hei! Bangun!”teriak Louren seraya menepuk-nepuk pipi Si Kembar.
“Duh, sakit tahu!” komentar Riki sambil memegang pipinya yang merah.
“Iya nih. Kalau mau nepuk mikir-mikir juga dong,” timpal Raka.
“Ups, maaf. Ku ‘kan nggak sengaja,” balas Louren dengan mimik muka sok imut-nya.
Sehabis sarapan, mereka pun memulai perjalanan. Untung saja kawasan yang mereka lalui huta semua, jadinya mereka tidak akan terpanggang. Untuk memecah keheningan, Raka buka suara.
“Louren, nama lengkapmu siapa sih?”
“Nama lengkapku? Tumben kamu nanya. Nama lengkapku Louren. Hanya Louren. Tidak lebih dan tidak kurang.”
“Cuma mau tahu aja. Kalau Putri Aurel? Kamu tahu nama lengkapnya siapa?”
“Putri Aurel? Hmm… Kalau tidak salah nama lengkapnya Aurelia L. Aurita. He eh, kalau tidak salah itu deh.”
“L-nya apaan?” tanya Riki. Louren hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
“Seperti nama ilmiahnya ubur-ubur, ya. Kalau saja huruf ‘L’-nya nggak ada, sempurna sudah nama ilmiahnya ubur-ubur,” celetuk Riki.
“Ya, begitulah. Sejak kejadian itu, para ahli ilmiah memutuskan untuk member nama ilmiah ubur-ubur dengan nama Aurelia aurita,” lanjut Louren. Raka dan Riki hanya melongo mendengar penjelasan Louren. Mereka tak menyangka lelucon yang mereka buat itu ternyata memang nyata.
Tak terasa Sang Surya hamper kembali ke peraduannya. Saat itu mereka telah sampai di sebuah desa kecil bernama Desa Alprodha. Menurut bahasa Acraedes, Alprodha artinya ‘kecil tapi sejahtera’. Sesuai namanya, desa ini memang kecil tapi penduduknya hidu damai dan sejahtera.
Mereka bertiga bermaksud untuk bermalam di desa tersebut. Ternyata, saat itu penduduk Desa Alprodha sedang mempersiapkan pesta nanti malam. Malam ini adalah malam saat bulan berbentuk separuh alias bulan separuh. Namun, penduduk sekitar menamakannya ‘Urasu’. Entahlah dari mana asal-usul terbentuknya nama ‘Urasu’ itu. Setiap malam ‘Urasu’, rakyat pasti merayakannya. Seolah-olah itu merupakan malam berkah bagi mereka.
Malam menjelang. ‘Urasu’ pun telah muncul. Acara juga sudah dimulai. Untuk memeriahkan acara, tiap keluarga mengirimkan utusan untuk mengisi acara, entah itu bercerita, menyanyi, menari, drama, bahkan hanya sekedar melucu. Hingga tibalah giliran utusan dari mereka. Walau mereka hanya tamu, mereka juga wajib mengirimkan utusan. Tanpa babibu lagi, Louren menarik Raka dan Riki ke tengah-tengah lingkaran-tempat mengisi acara dan api unggun berkobar-dan meminta mereka untuk mengisi acara.
Pada awalnya mereka bingung. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk…
“Selamat malam, Semuanya. Kami memutuskan untuk menyanyikan lagu daerah sambil menari tarian daerah yang berasal dari dunia kami. Selamat menyaksikan,” ucap Raka.
Mereka kemudian menyanyi lagu Ae’ Kapuas seraya menari Sajojo. Kurang serasi memang. Mungkin mereka berpikir tari Sajojo itu yang paling simpel. Cuma loncat-loncat ke depan dan ke belakang sih.
Penduduk sangat terhibur akan penampilan mereka. Begitu pula Louren. Ia tertawa melihat tingkah mereka. Sekilas, Raka memandang Louren. Ia merasa ada sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya. Ternyata, hal tersebut terlihat oleh Riki. Riki tidak terima Raka memandang Louren dengan cara seperti itu. He is jealous. Ia merasa dirinyalah yang berhak memiliki Louren. Sepertinya, bibit-bibit perkelahian antara keduanya sudah mulai berkecambah, bahkan bertunas. Tanda yang buruk.
Memang benar. Begitu acara selesai, Riki menarik tangan Raka, mengajaknya ke hutan terdekat. Louren-yang kebetulan melihat mereka-membuntuti mereka berdua. Firasatnya mengatakan kejadian buruk akan terjadi. Tepat dugaannya. Merasa sudah agak jauh dari perkampungan, Riki melepas tangan Raka dan langsung menyemprotnya.
“Maksud kamu apa sih? Mandangin Louren seperti itu? Kamu naksir dia, ya?”
“Kalau iya kenapa? Salah? Jangan-jangan kamu juga naksir sama dia. Eh, asal kamu tahu aja, ya. Dia itu milikku,” balas Raka.
“Milikmu? Kamu itu siapanya hah?! Memangnya Louren udah positif nerima kamu apa?! Belum, ‘kan? Jangan mimpi deh. Kalau jatuh, sakit tahu!” cerca Riki. Karena sama-sama tidak dapat menahan emosi, mereka berkelahi.
Louren, yang sejak tadi bersembunyi dari balik pohon, keluar. Mereka tidak menyadari kehadiran Louren hingga Louren berteriak.
“BERHENTI!”
Raka dan Riki pun sontak berhenti. Mereka tidak menyangka Louren akan berada di situ bersama mereka.
“Kalian ini apa-apaan sih? Kekanak-kanakan banget, tahu nggak?! Mana masalahnya sepele, lagi. Seharusnya kalian itu bersyukur bisa punya saudara kandung. Jujur, aku iri sama kalian. Aku ini anak tunggal. Walaupun aku punya banyak teman, tapi sebenarnya aku sepi. Ada celah kosong di hatiku yang hanya bisa terisi dengan kehadiran seorang saudara kandung. Kalau kalian seperti ini terus, kapan dewasanya? Dewasalah sedikit. Aku… Aku benci kalian yang seperti ini!”
Setelah mengucapkan serentetan kata yang mampu membisukan Raka dan Riki, Louren berbalik dan berlari meninggalkan mereka. Raka dan Riki tetap terpaku. Mereka meresapi setiap kata yang Louren utarakan. Mereka tidak ada niat sama sekali untuk melukai Louren. Tapi, justru yang mereka lakukan tersebut malah menorehkan luka di hati gadis itu. Cukup lama mereka membisu hingga Riki memecah kebisuan itu.
“Sudah larut. Lebih baik kita istirahat. Besok kita sudah harus mulai jalan lagi.”
☼☼☼
Esoknya, mereka mulai jalan lagi. Namun, perjalanan kali ini tak seceria kemarin. Mereka semua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka masih diselimuti baying-bayang akan kejadian kemarin malam.
“Louren, kami minta maaf. Kami janji nggak akan mengulangi lagi,” ujar Raka.
“Janji nggak hanya sembarang janji. Kalian harus benar-benar memegang ucapan kalian itu. Kalau kalian seperti itu lagi, tiada maaf bagi kalian,” ungkap Louren.
Louren berjalan cepat mendahului mereka. Serentak, Raka dan Riki mengejar Louren dan memeluknya dari belakang.
“Louren, kami benar-benar minta maaf. Kami sama sakali nggak bermaksud untuk melukaimu. Kami juga janji tidak akan seperti itu lagi. Sungguh,” tegas Riki.
Louren tersenyum tipis, kemudian membalas, “Bener?”
“Bener,” ucap Si Kembar bersamaan.
“Janji?”
“Janji.”
“Suer?” tanya Louren lagi.
“Suer,” jawab Si Kembar bersamaan untuk yang kesekian kalinya.
“Iya deh. Aku maafin kalian,” ucap Louren akhirnya seraya lagi-lagi tersenyum.
Louren berbalik, menghadap ke arah Si Kembar. Mereka juga tersenyum sumringah. Detik berikutnya, mereka bertiga berpelukan. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan panjang yang sempat terpotong tadi.
☼☼☼
Akhirnya, mereka sampai di Danau Delops. Kawasan di sekitar danau begitu gelap, menimbulkan kesan angker. Disana, telah menunggu seorang tua renta. Ia selalu menanti orang-orang yang akan pergi menuju pulau tersebut. Tua renta itu jualah yang akan memberikan lilin Babylon kepada mereka. Tiap kelompok hanya dapat jatah satu lilin Babylon.
“Permisi, Nek. Kami ingin pergi ke pulau untuk mengambil kalung. Kami ingin menyelamatkan Putri Aurel,” kata Louren sopan.
“Tentu saja kalian bisa. Tapi ingat, pikiran kalian harus tertuju pada pulau itu. Kalian harus konsentrasi penuh. Sedikit saja pikiran kalian melenceng ke yang lain, bersiaplah untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada dunia ini. Hahaha,” jelas Nenek tersebut seraya terkekeh-kekeh. Kekehannya mirip sekali dengan kekehannya Mak Lampir dalam sinetron Misteri Gunung Berapi zaman baheula.
“Kalau begitu, kira-kira siapa yang akan pergi kesana?” tanya Louren, menatap mereka berdua.
“Tentu saja aku,” jawab Raka.
“Bukan. Tapi aku,” sanggah Riki.
“Aku!” balas Raka.
“Bukan. Aku!” balas Riki.
“Ehem. Tadi kalian janji apa sama aku?” tanya Louren sinis.
“Riki, kamu saja yang pergi,” ujar Raka.
“Tidak usah. Kamu saja, Raka. Kamu ‘kan anak paling tua.”
“Cukup! Kusarankan kalian berdua saja yang pergi. Toh yang penting kalian konsentrasi,” ucap Louren menengahi.
Raka dan Riki tersenyum sumringah. Mereka pun memegang erat-erat lilin Babylon. Setelah merasa siap, mereka pun pergi. Kecepatan lilin Babylon bagaikan kecepatan cahaya. Tiba-tiba, Riki memikirkan Louren, bukan memikirkan pulau tersebut. Oh, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Jika ini terjadi, maka akan menjadi akhir yang sedih atau sad ending. Jika salah satu dari mereka melenceng sedikit saja, mereka akan tercebur ke danau. Dan… Dan…
“Riki, buka matamu. Kita sudah sampai sejak tadi,” panggil Raka.
“Oh ya?” jawabnya dengan wajah tak berdosa.
“Sekarang, cepat kita cari kalung tersebut.”
Mereka berkeliling mencari kalung itu dan mereka menemukannya di ranting pohon teratas dari satu-satunya pohon yang ada di pulau tersebut. Untung saja Riki jago memanjat. Dengan mudahnya ia menggapai kalung tersebut dan membawanya. Begitu Riki menginjakkan kakinya ke tanah, pulau yang pada awalnya gelap berubah menjadi terang. Tanahnya juga yang awalnya permadani coklat menjadi permadani hijau. Sedangkan Danau Delops berubah menjadi lahan luas yang dihiasi berbagai macam tumbuhan. Langit yang kelam pun ikut menyibakkan tirai abu-abunya. Warna biru cerah segera menggantikan gelapnya warna langit kala itu. Melihat hal itu, Raka dan Riki langsung berlari ke arah Louren yang ada di seberang mereka.
“Kita berhasil! Ya, kita berhasil!” sorak mereka bertiga. Setelah puas meluapkan rasa gembira, mereka berjalan menuju istana.
☼☼☼
“Yang Mulia, hamba melapor. Ada dua orang pria bersama seorang wanita ingin menghadap. Mereka mengaku telah berhasil mendapatkan kalung yang dapat menyelamatkan Yang Mulia PPutri Mahkota,” lapor seorang pengawal istana.
“Benarkah? Suruh mereka masuk,” titah Raja.
Raka, Riki, dan Louren berjalan masuk dan memberi hormat. Disinggasana, telah menanti Raja, Ratu, juga Putri Aurel yang masih berwujud ubur-ubur.
“Yang Mulia, kami menghadap. Kami ingin menyerahkan kalung yang dapat mengubah wujud Putri Mahkota ke wujud semula,” ucap Louren mewakili mereka semua. Mereka saling berpegangan tangan.
Raja kemudian menerima kalung tersebut dan mengalungkannya ke leher Putri Aurel. Tiba-tiba, muncul sinar yang menyilaukan mata. Raka dan Riki-yang menggenggam tangan Louren-merasa tangan Louren terlepas dari genggaman mereka. Saat mereka berpaling ke arah Louren yang diapit mereka berdua, sedikit demi sedikit menghilang menjadi tak kasat mata. Begitu raga Louren benar-benar lenyap, Putri Aurel telah berubah ke wujudnya semula. Dan…
“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Perjuangan kalian takkan pernah kulupakan,” ujar Putri Aurel.
Tapi, baik Raka maupun Riki tak ada yang focus terhadap ucapan Putri Aurel. Menoleh pun tidak. Mereka mencari sosok Louren yang menghilang entah kemana. Hingga Putri Aurel kembali berujar.
“Raka! Riki! Lihat aku dong.” Serentak Raka dan Riki menoleh.
“Louren? Kenapa kamu disana? Pakai pakaian kerajaan, lagi,” tutur Riki.
“Aku bukan Louren. Aku adalah Putri Aurel. Walaupun aku berubah wujud menjadi ubur-ubur, tapi jiwaku tidak. Selama ini, jiwakulah yang menemani kalian. Tidak hanya kalian, tapi juga semua orang yang pernah mencoba menyelamatkan diriku. Namun, mereka semua hanya mengincar gelarku, makanya gagal. Kalian beda. Kalian dengan tulus membantuku, tanpa ada unsur apapun. Terima kasih,” jelas Putri Aurel tulus.
Kemudian, Putri Aurel alias Louren melanjutkan, “Kalian tahu. Nama lengkapku adalah Aurelia L. Aurita. ‘L’ merupakan singkatan dari…”
“Louren,” potong Raka.
Hening sesaat, hingga tiba-tiba Putri Aurel kembali bersuara.
“Oh, tidak. Kalian telah berhasil menyelamatkan diriku. Misi kalian telah selesai,” kata Putri Aurel kalut.
“Misi kami memang sudah selesai. Ada yang salah?” tanya Riki.
“Itu artinya kalian akan…” Belum selesai Putri Aurel berbicara, tiba-tiba berhembus angin yang sangat kuat menarik tubuh Raka dan Riki. Misi mereka telah selesai. Kini, mereka harus kembali.
“Tidak! Jangan! Kalian jangan pergi!” teriak Putri Aurel.
“AUREL!” teriak Raka dan Riki bersamaan.
Kemudian, mereka tersedot oleh angin dan keluar dari sumur. Mereka sudah kembali ke Bumi. Raka dan Riki hanya bisa pasrah (lagi). Mereka terpaksa berpisah dengan Aurel. Padahal, mereka baru saja menghirup udara kebebasan. Mereka tidak bisa kembali ke sana lagi. Dunia Acraeda telah tertutup bagi mereka untuk selamanya.
☼☼☼
Tiga bulan berselang sejak kejadian di sumur tersebut. Raka dan Riki juga sudah terbebas dari hukuman mereka. Sejak saat itu, mereka tidak pernah berkelahi lagi. Mereka selalu teringat akan ucapan Louren di Desa Alprodha.
Kalian ini apa-apaan sih? Kekanak-kanakan banget, tahu nggak?! Mana masalahnya sepele, lagi. Seharusnya kalian itu bersyukur bisa punya saudara kandung. Jujur, aku iri sama kalian. Aku ini anak tunggal. Walaupun aku punya banyak teman, tapi sebenarnya aku sepi. Ada celah kosong di hatiku yang hanya bisa terisi dengan kehadiran seorang saudara kandung. Kalau kalian seperti ini terus, kapan dewasanya? Dewasalah sedikit. Aku… Aku benci kalian yang seperti ini!, begitu ucapan Louren waktu itu.
Bel masuk telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Tak lama, Bu Yovita-wali kelas mereka-datang.
“Selamat pagi,” salam Bu Yovita.
“Pagi, Bu.”
“Hari ini kita kedatangan murid baru. Seorang perempuan. Ia pindahan dari Malang. Sebentar Ibu panggilkan.”
Bu Yovita keluar dan memanggil anak baru itu. Seperti biasa-terutama sejak kejadian itu-Raka dan Riki bersikap acuh tak acuh. Mau ada anak baru atau tidak, mereka tidak peduli. Kemudian Bu Yovita masuk kembali bersama anak baru itu.
“Wah, cantik ya.”
“Hei, anak barunya cantik, lho.”
Seluruh kelas kasak-kusuk membicarakan anak baru itu, kecuali Si Kembar tentunya. Bu Yovita mempersilahkan anak baru itu untuk memperkenalkan diri.
“Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pagi, Semuanya,” Si Anak Baru buka suara.
Raka dan Riki sontak mematung. Mereka merasa mendengar sebuah suara yang sudah lama tak didengar mereka dan mereka sangat merindukan suara indah itu.
Kemudian, Si Anak Baru melanjutkan, “Perkenalkan. Nama saya…”
Raka dan Riki serempak menoleh dan berteriak, “LOUREN?!”
END
