Acraeda

Published April 7, 2011 by Icha Hyora

Hari yang paling ditunggu-tunggu setiap insan, terutama pelajar, telah tiba. Ya, akhir pekan. Seperti kebanyakan renaja lainnya, Raka dan Riki-Si Kembar yang selalu tidak akur-juga menikmati akhir pekan mereka. Sayang, akhir pekan kali ini tak seindah dan selancar akhir pekan yang dulu-dulu. Mereka ditilang polisi karena kebut-kebutan di jalan raya dan menyenggol seorang polisi. Dasar nakal! Alhasil, orang tua mereka dipanggil dan sebagai hadiah mereka tidak boleh ke luar rumah selain ke sekolah dan akan diantar-jemput. Dengan serta-merta, mereka menolak mentah-mentah keputusan sepihak yang dianggap tidak adil itu. Tapi, apa boleh buat. Keputusan orang tua tidak dapat diganggu gugat (juri kali!). Sebagai dua orang anak yang masih dianggap, mereka hanya bisa pasrah.

Di belakang rumah mereka terdapat sumur tua. Konon, sumur tersebut dapat membawa kita ke dunia lain. Kita hanya bisa ke dunia tersebut jika sumur itu berkehendak demikian. Tidak masuk akal memang. Tapi, seperti itulah yang diceritakan almarhum kakek Raka dan Riki.

Suatu hari, Riki duduk termangu di atas sumur tua itu. Ia menengadah ke langit. Entah ilusi atau bukan, ia merasa sesuatu menyentuh lengan kirinya dan perlahan-lahan menariknya. Saat ia sepenuhnya sadar, ia melihat sesuatu seperti tentakel besar dan panjang sedang berusaha menariknya ke dalam sumur. Riki pun berusaha melepaskan tangannya dari benda berlendir dan lengket di tangannya.

Seakan mengetahui mangsanya berusaha melepaskan diri, tentakel tersebut semakin mempererat lilitannya di tangan Riki menarik Riki. Alhasil, Riki pun tertarik masuk. Namun, ia masih mencoba menyelamatkan diri. Tangan kanannya memegang mulut sumur.

“TOLONG!” teriak Riki.

Teriakannya mendatangkan Raka. Raka pun segera menarik Riki keluar. Saat itu, Cuma mereka berdua di rumah. Orang tua mereka sedang pergi entah kemana dan mengunci mereka dari luar. Malang, usaha mereka sia-sia. Tentakel itu begitu kuat sehingga dapat menarik Si Kembar tersebut.

Tiba-tiba, secercah sinar menyilaukan mata mereka. Sedetik kemudian, mareka terhempas ke tanah yang penuh lumpur. Saat itulah mereka melihat ‘benda’ yang menarik mereka tadi. Ternyata, ‘benda’ tersebut adalah seekor gurita raksasa seperti pada film kartun anak-anak Peter Pan. Aneh, gurita kok di darat? Bukannya ada di laut? Tapi, Raka dan Riki tak mempermasalahkan itu semua. Yang terpenting adalah, bagaimana caranya agar mereka bisa bebas dari gurita kuat nan ganas ini.

Sungguh beruntung mereka. Tak lama kemudian, beberapa penduduk sekitar datang dan menyerang Si  Gurita. Perlahan tapi pasti, Si Gurita tersebut menenggelamkan diri kembali ke dalam lumpur. Entah bagaimana caranya, namun itulah kenyataannya.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya seorang gadis yang sepertinya sebaya dengan mereka.

“Ya, kami baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong kami,” jawab Raka sebagai anak yang paling tua (maksudnya yang keluar duluan).

Gadis itu tersenyum, kemudia melanjutkan, “Perkenalkan. Namaku Louren.”

“Aku Raka dan ini kembaranku, Riki. Ngomong-ngomong, ini dimana, ya?”

“Maaf, aku lupa. Selamat datang di Acraeda,” ucap Louren.

“Ac… Acra apa, ya?” tanya Riki bingung.

“Acraeda. A-C-R-A-E-D-A. Acraeda,” terang Louren tegas. “Penduduk Acraeda disebut Acraedos, sedangkan bahasa Acraeda disebut Acraedes. Tapi, bahasa itu sudah tidak digunakan lagi sejak ratusan tahun silam. Hanya keluarga kerajaan saja yang wajib mempelajari bahasa Acraedes. Kalian sendiri berasal dari mana?”

“Dari Bumi. Oh iya, tadi kamu bilang ‘kerajaan’. Jadi, Acraeda ini merupakan kerajaan, begitu?” tanya Riki.

“Kamu benar. Sayang, saat ini Kerajaan sedang mengalami musibah.”

“Maksud kamu?” Kali ini Raka yang bertanya.

“Ya. Raja dan Ratu hanya dikaruniai satu keturunan. Seorang putri mahkota yang cantik jelita, baik, ramah, dan penolong. Rakyat sangat menyukainya. Bulan depan, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-160, ia…”

“KE-160?!” teriak Raka dan Riki, kaget.

“I… Iya. Memangnya ada yang salah?” balas Louren, heran sekaligus kaget.

“Ya iyalah. Putri mahkotanya aja udah 160 tahun apalagi Raja ama Ratunya?! Tapi, ngomong-ngomong, umur kamu berapa sih?”

“Ehm… sebentar lagi aku juga ulang tahun yang ke-160,” jawab Louren polos.

“HAH?! 160 JUGA?! Ini dunia apaan sih? Kok nggak masuk akal banget?” ujar Riki.

“Memangnya umur kalian berapa? Sepertinya kita sebaya, deh.”

“Umur kami baru 16 tahun,” jawab Raka.

“Sepertinya 1 tahun di Acraeda sama dengan 10 kali tahunnya Bumi. Setidaknya, begitulah kesimpulanku saat ini. Mungkin jika kalian berada di Acraeda umur kalian akan sama sepertiku, 160 tahun.”

“Sudahlah. Tidak penting kalau kita ngebahas it uterus. Lagian, kamu juga belum selesai bercerita. Benar begitu, Louren?” ungkap Riki.

Louren pun melanjutkan ceritanya. Ia bercerita bahwa seminggu yang lalu Sang Putri yang dikenal bernama Aurel dikutuk menjadi ubur-ubur. Ia hanya bisa diselamatkan bila lehernya dikenakan kalung bermatakan permata dan bertabur tetesan embun pagi. Konon, kalung itu berada di pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Delops. Delops berarti ‘mati’ (menurut kamus bahasa Acraedes yang dimiliki Louren, tentunya).

Raja berjanji, barangsiapa yang bisa menyelamatkan putrinya, maka ia akan diangkat menjadi menantunya. Sudah banyak pemuda yang mencoba, baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Namun, tak ada yang berhasil. Mereka semua terjebak di Danau Delops. Usut punya usut, walaupun kita jago berenang, kita tetap akan tenggelam di danau tersebut. Jadi, untuk mendapatkan kalung tersebut, mereka menggunakan lilin Babylon yang dapat mengantar kita hanya ke pulau itu. Tapi, syaratnya, kita juga harus berkonsentrasi penuh. Kita harus memusatkan pikiran kita hanya ke pulau itu, tidak boleh yang lain. Karena jika tidak, kita akan tercebur ke danau dan mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada dunia.

Tak lama kemudian, Louren seakan menyadari sesuatu. Ia memandang bergantian ke arah mereka berdua. Dari Raka ke Riki, kemudia ke Raka lagi. Begitu seterusnya hingga ia akhirnya menyeletuk, “Aku ingat sekarang! Ya, tepat seperti ramalan. Akhirnya, Putri Aurel akan selamat.”

“Memangnya kenapa?” tanya Raka dan Riki bersamaan.

“Menurut peramal, Putri Aurel akan diselamatkan oleh dua orang pemuda yang berasal dari dunia lain. Dan pemuda itu adalah kalian. Kalian berasal dari Bumi, dunia yang terpisah dari dunia kami. Aku mohon, selamatkan Putri Aurel,” jelas Louren.

Untuk beberapa saat, Raka dan Riki berdiskusi. Selang beberapa menit, mereka pun memutuskan bahwa mereka akan menolong Putri Aurel. Louren senang bukan main. Ia juga mengusulkan agar misi penyelamatan ini dilaksanakan besok. Dan, misi pun dimulai.

☼☼☼

Fajar telah bangun dari tidurnya yang lelap. Sudah tiba saatnya bagi Raka dan Riki untuk  menapaki kerikil-kerikil tajam yang menanti mereka.

“Hei! Bangun!”teriak Louren seraya menepuk-nepuk pipi Si Kembar.

“Duh, sakit tahu!” komentar Riki sambil memegang pipinya yang merah.

“Iya nih. Kalau mau nepuk mikir-mikir juga dong,” timpal Raka.

“Ups, maaf. Ku ‘kan nggak sengaja,” balas Louren dengan mimik muka sok imut-nya.

Sehabis sarapan, mereka pun memulai perjalanan. Untung saja kawasan yang mereka lalui huta semua, jadinya mereka tidak akan terpanggang. Untuk memecah keheningan, Raka buka suara.

“Louren, nama lengkapmu siapa sih?”

“Nama lengkapku? Tumben kamu nanya. Nama lengkapku Louren. Hanya Louren. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Cuma mau tahu aja. Kalau Putri Aurel? Kamu tahu nama lengkapnya siapa?”

“Putri Aurel? Hmm… Kalau tidak salah nama lengkapnya Aurelia L. Aurita. He eh, kalau tidak salah itu deh.”

“L-nya apaan?” tanya Riki. Louren hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.

“Seperti nama ilmiahnya ubur-ubur, ya. Kalau saja huruf ‘L’-nya nggak ada, sempurna sudah nama ilmiahnya ubur-ubur,” celetuk Riki.

“Ya, begitulah. Sejak kejadian itu, para ahli ilmiah memutuskan untuk member nama ilmiah ubur-ubur dengan nama Aurelia aurita,” lanjut Louren. Raka dan Riki hanya melongo mendengar penjelasan Louren. Mereka tak menyangka lelucon yang mereka buat itu ternyata memang nyata.

Tak terasa Sang Surya hamper kembali ke peraduannya. Saat itu mereka telah sampai di sebuah desa kecil bernama Desa Alprodha. Menurut bahasa Acraedes, Alprodha artinya ‘kecil tapi sejahtera’. Sesuai namanya, desa ini memang kecil tapi penduduknya hidu damai dan sejahtera.

Mereka bertiga bermaksud untuk bermalam di desa tersebut. Ternyata, saat itu penduduk Desa Alprodha sedang mempersiapkan pesta nanti malam. Malam ini adalah malam saat bulan berbentuk separuh alias bulan separuh. Namun, penduduk sekitar menamakannya ‘Urasu’. Entahlah dari mana asal-usul terbentuknya nama ‘Urasu’ itu. Setiap malam ‘Urasu’, rakyat pasti merayakannya. Seolah-olah itu merupakan malam berkah bagi mereka.

Malam menjelang. ‘Urasu’ pun telah muncul. Acara juga sudah dimulai. Untuk memeriahkan acara, tiap keluarga mengirimkan utusan untuk mengisi acara, entah itu bercerita, menyanyi, menari, drama, bahkan hanya sekedar melucu. Hingga tibalah giliran utusan dari mereka. Walau mereka hanya tamu, mereka juga wajib mengirimkan utusan. Tanpa babibu lagi, Louren menarik Raka dan Riki ke tengah-tengah lingkaran-tempat mengisi acara dan api unggun berkobar-dan meminta mereka untuk mengisi acara.

Pada awalnya mereka bingung. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk…

“Selamat malam, Semuanya. Kami memutuskan untuk menyanyikan lagu daerah sambil menari tarian daerah yang berasal dari dunia kami. Selamat menyaksikan,” ucap Raka.

Mereka kemudian menyanyi lagu Ae’ Kapuas seraya menari Sajojo. Kurang serasi memang. Mungkin mereka berpikir tari Sajojo itu yang paling simpel. Cuma loncat-loncat ke depan dan ke belakang sih.

Penduduk sangat terhibur akan penampilan mereka. Begitu pula Louren. Ia tertawa melihat tingkah mereka. Sekilas, Raka memandang Louren. Ia merasa ada sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya. Ternyata, hal tersebut terlihat oleh Riki. Riki tidak terima Raka memandang Louren dengan cara seperti itu. He is jealous. Ia merasa dirinyalah yang berhak memiliki Louren. Sepertinya, bibit-bibit perkelahian antara keduanya sudah mulai berkecambah, bahkan bertunas. Tanda yang buruk.

Memang benar. Begitu acara selesai, Riki menarik tangan Raka, mengajaknya ke hutan terdekat. Louren-yang kebetulan melihat mereka-membuntuti mereka berdua. Firasatnya mengatakan kejadian buruk akan terjadi. Tepat dugaannya. Merasa sudah agak jauh dari perkampungan, Riki melepas tangan Raka dan langsung menyemprotnya.

“Maksud kamu apa sih? Mandangin Louren seperti itu? Kamu naksir dia, ya?”

“Kalau iya kenapa? Salah? Jangan-jangan kamu juga naksir sama dia. Eh, asal kamu tahu aja, ya. Dia itu milikku,” balas Raka.

“Milikmu? Kamu itu siapanya hah?! Memangnya Louren udah positif nerima kamu apa?! Belum, ‘kan? Jangan mimpi deh. Kalau jatuh, sakit tahu!” cerca Riki. Karena sama-sama tidak dapat menahan emosi, mereka berkelahi.

Louren, yang sejak tadi bersembunyi dari balik pohon, keluar. Mereka tidak menyadari kehadiran Louren hingga Louren berteriak.

“BERHENTI!”

Raka dan Riki pun sontak berhenti. Mereka tidak menyangka Louren akan berada di situ bersama mereka.

“Kalian ini apa-apaan sih? Kekanak-kanakan banget, tahu nggak?! Mana masalahnya sepele, lagi. Seharusnya kalian itu bersyukur bisa punya saudara kandung. Jujur, aku iri sama kalian. Aku ini anak tunggal. Walaupun aku punya banyak teman, tapi sebenarnya aku sepi. Ada celah kosong di hatiku yang hanya bisa terisi dengan kehadiran seorang saudara kandung. Kalau kalian seperti ini terus, kapan dewasanya? Dewasalah sedikit. Aku… Aku benci kalian yang seperti ini!”

Setelah mengucapkan serentetan kata yang mampu membisukan Raka dan Riki, Louren berbalik dan berlari meninggalkan mereka. Raka dan Riki tetap terpaku. Mereka meresapi setiap kata yang Louren utarakan. Mereka tidak ada niat sama sekali untuk melukai Louren. Tapi, justru yang mereka lakukan tersebut malah menorehkan luka di hati gadis itu. Cukup lama mereka membisu hingga Riki memecah kebisuan itu.

“Sudah larut. Lebih baik kita istirahat. Besok kita sudah harus mulai jalan lagi.”

☼☼☼

Esoknya, mereka mulai jalan lagi. Namun, perjalanan kali ini tak seceria kemarin. Mereka semua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka masih diselimuti baying-bayang akan kejadian kemarin malam.

“Louren, kami minta maaf. Kami janji nggak akan mengulangi lagi,” ujar Raka.

“Janji nggak hanya sembarang janji. Kalian harus benar-benar memegang ucapan kalian itu. Kalau kalian seperti itu lagi, tiada maaf bagi kalian,” ungkap Louren.

Louren berjalan cepat mendahului mereka. Serentak, Raka dan Riki mengejar Louren dan memeluknya dari belakang.

“Louren, kami benar-benar minta maaf. Kami sama sakali nggak bermaksud untuk melukaimu. Kami juga janji tidak akan seperti itu lagi. Sungguh,” tegas Riki.

Louren tersenyum tipis, kemudian membalas, “Bener?”

“Bener,” ucap Si Kembar bersamaan.

“Janji?”

“Janji.”

“Suer?” tanya Louren lagi.

“Suer,” jawab Si Kembar bersamaan untuk yang kesekian kalinya.

“Iya deh. Aku maafin kalian,” ucap Louren akhirnya seraya lagi-lagi tersenyum.

Louren berbalik, menghadap ke arah Si Kembar. Mereka juga tersenyum sumringah. Detik berikutnya, mereka bertiga berpelukan. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan panjang yang sempat terpotong tadi.

☼☼☼

Akhirnya, mereka sampai di Danau Delops. Kawasan di sekitar danau begitu gelap, menimbulkan kesan angker. Disana, telah menunggu seorang tua renta. Ia selalu menanti orang-orang yang akan pergi menuju pulau tersebut. Tua renta itu jualah yang akan memberikan lilin Babylon kepada mereka. Tiap kelompok hanya dapat jatah satu lilin Babylon.

“Permisi, Nek. Kami ingin pergi ke pulau untuk mengambil kalung. Kami ingin menyelamatkan Putri Aurel,” kata Louren sopan.

“Tentu saja kalian bisa. Tapi ingat, pikiran kalian harus tertuju pada pulau itu. Kalian harus konsentrasi penuh. Sedikit saja pikiran kalian melenceng ke yang lain, bersiaplah untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada dunia ini. Hahaha,” jelas Nenek tersebut seraya terkekeh-kekeh. Kekehannya mirip sekali dengan kekehannya Mak Lampir dalam sinetron Misteri Gunung Berapi zaman baheula.

“Kalau begitu, kira-kira siapa yang akan pergi kesana?” tanya Louren, menatap mereka berdua.

“Tentu saja aku,” jawab Raka.

“Bukan. Tapi aku,” sanggah Riki.

“Aku!” balas Raka.

“Bukan. Aku!” balas Riki.

“Ehem. Tadi kalian janji apa sama aku?” tanya Louren sinis.

“Riki, kamu saja yang pergi,” ujar Raka.

“Tidak usah. Kamu saja, Raka. Kamu ‘kan anak paling tua.”

“Cukup! Kusarankan kalian berdua saja yang pergi. Toh yang penting kalian konsentrasi,” ucap Louren menengahi.

Raka dan Riki tersenyum sumringah. Mereka pun memegang erat-erat lilin Babylon. Setelah merasa siap, mereka pun pergi. Kecepatan lilin Babylon bagaikan kecepatan cahaya. Tiba-tiba, Riki memikirkan Louren, bukan memikirkan pulau tersebut. Oh, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Jika ini terjadi, maka akan menjadi akhir yang sedih atau sad ending. Jika salah satu dari mereka melenceng sedikit saja, mereka akan tercebur ke danau. Dan… Dan…

“Riki, buka matamu. Kita sudah sampai sejak tadi,” panggil Raka.

“Oh ya?” jawabnya dengan wajah tak berdosa.

“Sekarang, cepat kita cari kalung tersebut.”

Mereka berkeliling mencari kalung itu dan mereka menemukannya di ranting pohon teratas dari satu-satunya pohon yang ada di pulau tersebut. Untung saja Riki jago memanjat. Dengan mudahnya ia menggapai kalung tersebut dan membawanya. Begitu Riki menginjakkan kakinya ke tanah, pulau yang pada awalnya gelap berubah menjadi terang. Tanahnya juga yang awalnya permadani coklat menjadi permadani hijau. Sedangkan Danau Delops berubah menjadi lahan luas yang dihiasi berbagai macam tumbuhan. Langit yang kelam pun ikut menyibakkan tirai abu-abunya. Warna biru cerah segera menggantikan gelapnya warna langit kala itu. Melihat hal itu, Raka dan Riki langsung berlari ke arah Louren yang ada di seberang mereka.

“Kita berhasil! Ya, kita berhasil!” sorak mereka bertiga. Setelah puas meluapkan rasa gembira, mereka berjalan menuju istana.

☼☼☼

“Yang Mulia, hamba melapor. Ada dua orang pria bersama seorang wanita ingin menghadap. Mereka mengaku telah berhasil mendapatkan kalung yang dapat menyelamatkan Yang Mulia PPutri Mahkota,” lapor seorang pengawal istana.

“Benarkah? Suruh mereka masuk,” titah Raja.

Raka, Riki, dan Louren berjalan masuk dan memberi hormat. Disinggasana, telah menanti Raja, Ratu, juga Putri Aurel yang masih berwujud ubur-ubur.

“Yang Mulia, kami menghadap. Kami ingin menyerahkan kalung yang dapat mengubah wujud Putri Mahkota ke wujud semula,” ucap Louren mewakili mereka semua. Mereka saling berpegangan tangan.

Raja kemudian menerima kalung tersebut dan mengalungkannya ke leher Putri Aurel. Tiba-tiba, muncul sinar yang menyilaukan mata. Raka dan Riki-yang menggenggam tangan Louren-merasa tangan Louren terlepas dari genggaman mereka. Saat mereka berpaling ke arah Louren yang diapit mereka berdua, sedikit demi sedikit menghilang menjadi tak kasat mata. Begitu raga Louren benar-benar lenyap, Putri Aurel telah berubah ke wujudnya semula. Dan…

“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Perjuangan kalian takkan pernah kulupakan,” ujar Putri Aurel.

Tapi, baik Raka maupun Riki tak ada yang focus terhadap ucapan Putri Aurel. Menoleh pun tidak. Mereka mencari sosok Louren yang menghilang entah kemana. Hingga Putri Aurel kembali berujar.

“Raka! Riki! Lihat aku dong.” Serentak Raka dan Riki menoleh.

“Louren? Kenapa kamu disana? Pakai pakaian kerajaan, lagi,” tutur Riki.

“Aku bukan Louren. Aku adalah Putri Aurel. Walaupun aku berubah wujud menjadi ubur-ubur, tapi jiwaku tidak. Selama ini, jiwakulah yang menemani kalian. Tidak hanya kalian, tapi juga semua orang yang pernah mencoba menyelamatkan diriku. Namun, mereka semua hanya mengincar gelarku, makanya gagal. Kalian beda. Kalian dengan tulus membantuku, tanpa ada unsur apapun. Terima kasih,” jelas Putri Aurel tulus.

Kemudian, Putri Aurel alias Louren melanjutkan, “Kalian tahu. Nama lengkapku adalah Aurelia L. Aurita. ‘L’ merupakan singkatan dari…”

“Louren,” potong Raka.

Hening sesaat, hingga tiba-tiba Putri Aurel kembali bersuara.

“Oh, tidak. Kalian telah berhasil menyelamatkan diriku. Misi kalian telah selesai,” kata Putri Aurel kalut.

“Misi kami memang sudah selesai. Ada yang salah?” tanya Riki.

“Itu artinya kalian akan…” Belum selesai Putri Aurel berbicara, tiba-tiba berhembus angin yang sangat kuat menarik tubuh Raka dan Riki. Misi mereka telah selesai. Kini, mereka harus kembali.

“Tidak! Jangan! Kalian jangan pergi!” teriak Putri Aurel.

“AUREL!” teriak Raka dan Riki bersamaan.

Kemudian, mereka tersedot oleh angin dan keluar dari sumur. Mereka sudah kembali ke Bumi. Raka dan Riki hanya bisa pasrah (lagi). Mereka terpaksa berpisah dengan Aurel. Padahal, mereka baru saja menghirup udara kebebasan. Mereka tidak bisa kembali ke sana lagi. Dunia Acraeda telah tertutup bagi mereka untuk selamanya.

☼☼☼

Tiga bulan berselang sejak kejadian di sumur tersebut. Raka dan Riki juga sudah terbebas dari hukuman mereka. Sejak saat itu, mereka tidak pernah berkelahi lagi. Mereka selalu teringat akan ucapan Louren di Desa Alprodha.

Kalian ini apa-apaan sih? Kekanak-kanakan banget, tahu nggak?! Mana masalahnya sepele, lagi. Seharusnya kalian itu bersyukur bisa punya saudara kandung. Jujur, aku iri sama kalian. Aku ini anak tunggal. Walaupun aku punya banyak teman, tapi sebenarnya aku sepi. Ada celah kosong di hatiku yang hanya bisa terisi dengan kehadiran seorang saudara kandung. Kalau kalian seperti ini terus, kapan dewasanya? Dewasalah sedikit. Aku… Aku benci kalian yang seperti ini!, begitu ucapan Louren waktu itu.

Bel masuk telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Tak lama, Bu Yovita-wali kelas mereka-datang.

“Selamat pagi,” salam Bu Yovita.

“Pagi, Bu.”

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Seorang perempuan. Ia pindahan dari Malang. Sebentar Ibu panggilkan.”

Bu Yovita keluar dan memanggil anak baru itu. Seperti biasa-terutama sejak kejadian itu-Raka dan Riki bersikap acuh tak acuh. Mau ada anak baru atau tidak, mereka tidak peduli. Kemudian Bu Yovita masuk kembali bersama anak baru itu.

“Wah, cantik ya.”

“Hei, anak barunya cantik, lho.”

Seluruh kelas kasak-kusuk membicarakan anak baru itu, kecuali Si Kembar tentunya. Bu Yovita mempersilahkan anak baru itu untuk memperkenalkan diri.

“Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pagi, Semuanya,” Si Anak Baru buka suara.

Raka dan Riki sontak mematung. Mereka merasa mendengar sebuah suara yang sudah lama tak didengar mereka dan mereka sangat merindukan suara indah itu.

Kemudian, Si Anak Baru melanjutkan, “Perkenalkan. Nama saya…”

Raka dan Riki serempak menoleh dan berteriak, “LOUREN?!”

END

Antara Dua Sudut

Published April 7, 2011 by Icha Hyora

Sebelum dibaca, author mau ngasi beberapa wejangan terlebih dahulu. Pertama, cerpen ini gak ada sangkut pautnya dengan SARA. Ini hanya cerpen belaka, fiktif alias gak nyata. Cerpen ini merupakan salah satu hasil keisengan author. Kedua, jangan lupa comment ya! Enjoy.. ;)

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamarku diketuk. Ugh, ini ‘kan hari Minggu. Dan lagi, ini baru jam… SETENGAH ENAM! Nah lho, siapa sih yang iseng pagi-pagi gini bangunin aku yang lagi tertidur pulas? Kurang kerjaan banget, tau nggak? Ah, bodo’ amat. Mending aku lanjutin aja mimpi indah yang sempet kepotong ama suara nan tak merdu ketukan pintu. Palingan ‘ntar empunya si tangan yang ngetok pintu juga bakal berhenti gara-gara aku cuekin.

TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!

Weits, dugaanku salah total. Si tukang ngetok pintu masih saja keukeuh mengetuk pintu. Masih malas, kututup wajahku dengan bantal kemudian menyelusup semakin dalam ke bedcover hangatku.

TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!

“IYAA… SEBENTAR…!” teriakku biar si tukang ngetok pintu puas-was-was. Ajaib! Setelah berkata seperti itu, ketukan tak merdu itu menghilang tanpa menyisakan satu not balok pun. Uring-uringan, aku menepis bedcover-ku, beranjak ke kamar mandi buat sekedar cuci muka. Setelah mengeringkannya, aku keluar. Tak lupa pula kupakai sandal rumah putih berkepala kucing bangsawan, Marie, salah satu tokoh kartun yang diciptakan oleh Eyang Walt Disney.

Aku menuruni tangga, berjalan menuju ruang makan dengan mata setengah tertutup setengah terbuka. Dan… BRUKK! Aku berhasil menabrak pilar yang berdiri kokoh, yang membatasi ruang keluarga dan ruang makan.

“Aduh, Non. Kalau jalan ya hati-hati dong, Non. Masa’ bisa sampe ‘nabrak pilar yang segede gajah itu sih, Non,” ucap Bi Minah-pembantu senior dalam keluargaku-seraya membantuku berjalan kearah meja makan. Mungkin dia takut aku akan menabrak pilar lagi.

Kemudian, Bi Minah menarik salah satu kursi makan terdekat, mendudukkanku kemudian kembali ke aktivitasnya semula. Biasa, menyiapkan sarapan pagi. Tiba-tiba, seakan tersadar akan suatu hal, aku menepuk jidatku. Oh iya, kok aku sampai lupa, ya? Tadi pagi kira-kira siapa yang ngetok-ngetok pintu kamar aku? ‘Ngusik mimpi indah aku? Memang mesti diberi pelajaran tuh orang. Awas aja kalo sampai ketemu. Dijamin, raganya nggak bakal selamat dari aku.

Aku mendengus. Kuterka-terka, kira-kira siapa yang iseng bangunin aku jam segini. Kalau Mama-Papa rasanya nggak akan mungkin terjadi deh. Yang ada mah aku yang bangunin Mama-Papa, bukan aku yang dibangunin Mama-Papa. Bi Minah? Sangat nggak mungkin itu. Bi Minah ‘kan udah tau dari zaman es-nya film Ice Age kalau aku paling nggak suka dibangunin ama orang, apalagi hari Minggu. Terkecuali, emang aku-nya yang pengen dibangunin. Jadi, siapa dong orang gila tak jelas yang ngetok-ngetok pintu kamar cuma buat ngebangunin singa betina yang lagi tidur? Aku jadi pusing 77 keliling nih.

TENG! TENG! TENG! TENG! TENG! TENG!

Aku terperanjat mendengar suara jam besar tua yang terletak di samping tangga. Sudah jam 06.00, waktunya buat sarapan pagi bersama. Tradisi itu memang sudah mengalir sejak dulu di keluargaku. Resminya sih mulai sarapan jam 06.15. Tapi, semuanya sudah harus berada di meja makan jam 06.00. Begitu pula makan malam. Jam 19.00 semuanya harus sudah ada di meja, mulai makan jam 19.05.

Kalau ada yang nggak bisa ikut makan malam bersama atau akan telat ikut makan, wajib melapor dulu ke Mama-Papa. Jangan pernah ngebayangin buat ninggalin makan bersama tanpa laporan deh. Kita akan dapat hadiah ceramah dari Mama-Papa betapa pentingnya makan bersama keluarga itu. Setelah itu, kita akan dapat siaran ulang tentang betapa tradisi makan bersama ini sudah mengalir secara turun-temurun dan dijaga serta patut dilestarikan hingga sekarang oleh baik pihak keluarga Papa maupun pihak keluarga Mama.

Pernah, dulu sekali, aku telat ikut makan malam bersama. Bukannya aku nggak mau melapor, tapi ponselku kehabisan pulsa. Mana jalanan macet lagi gara-gara ada truk tronton yang mogok. Alhasil, seluruh kendaraan-nggak minus Cheriel(panggilan QQ Chery kesayanganku)-terpaksa mengantri buat melewati tronton itu. Dan… eng-i-eng… aku sampai dirumah tepat saat jam tua itu berdentang untuk yang kesembilan kalinya. As a special gift, orang tuaku ceramah panjang kali lebar kali tinggi di ruang keluarga. Nah, bisa ngebayangin ‘kan betapa ngantuknya aku ngedengerin siaran ulang mereka. Hampir saja kepalaku membentur kaki sofa tempat orang tuaku duduk buat nyeramahin aku. Untung saja tidak ketahuan. Kepalaku ‘kan menunduk dan aku duduk bersimpuh di atas permadani empuk ala Venesia. Selain itu, rambut panjang teruraiku juga menutupi wajah. Praktis, mereka tidak tahu kalau aku selama itu cuma tidur, tidak mendengarkan celotehan mereka.

Padahal sudah jam 06.00, kok pada belum ngumpul, ya? Mungkin ketiduran. Lebih baik aku bangunin saja. Baru saja aku akan menaiki anak tangga yang pertama, Bi Minah memanggilku.

“Non Laurie mau kemana?”

“Saya mau bangunin Papa sama Mama,” jawabku sekenanya, kemudian mengangkat kaki untuk menapaki tangga dan…

“Tapi Non, Bapak sama Nyonya sudah bangun dari tadi.” Langkah kakiku terhenti di udara, kemudian kembali ke tempatnya semula.

“Masa’ sih, Bi? Tumben-tumbenan. Kalau gitu, sekarang Papa sama Mama ada dimana?”

“Bapak sama Nyonya ada di kebun belakang, Non.”

“Oh. Merci, Bi.”

Aku berbalik, kemudian pergi ke arah kebun belakang rumahku. Tidak aneh memang kalau orang tuaku ada disana. Yang buat aneh itu satu, nggak biasa-biasanya Minggu pagi Papa-Mama sudah ada disana. Jam magang mereka di kebun ‘kan sekitar jam 10.00 atau jam 16.00. Sesampainya di kebun belakang, aku mendapati Papa-Mama sedang duduk di kursi taman mengelilingi meja kecil tempat bertumpunya teh hangat mereka. Kelihatannya mereka baru selesai mendiskusikan sesuatu. Tapi apa? Mama menyadari kedatanganku.

“Lauria. Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Mama.

“Belum, Ma. Laurie masih tidur, tapi sambil jalan,” jawabku cemberut.

“Lauria, duduk disini,” perintah Papa tegas.

Aku patuh, dan duduk di tempat yang di tunjuk Papa.

“Ada apa, Ma, Pa? Kok kayaknya ada sesuatu yang urgent deh.”

“Ah, nggak ada apa-apa kok, Sayang. Hari ini kamu jangan kemana-mana, ya. Nanti sore kita mau makan malam di luar,” ujar Mama halus.

“Tumben, Ma, kita makan di luar. Nggak pernah-pernah.”

“Kebetulan Papa ada undangan makan malam dari sahabat Papa pas sekolah dulu. Nggak enak juga ‘kan kalau kita tolak.”

“Itu sih urusan mudah, Ma, Pa. Bisa diatur,” tanggapku.

“Sekarang kita sarapan dulu. Sudah mau jam 06.15 nih,” Papa mengingatkan.

Ж

Sorenya, aku-dibantu Mama-memilih baju yang akan kukenakan. Hingga akhirnya terpilihlah gaun beludruku yang berwarna hijau lumut model kemben dengan hiasan bulu merak di bagian kanan atas. Rambutku digelung ke atas secara asal, membiarkan helai rambut yang jatuh tak terikat. Wajahku di make-up secara natural. Dan…. TADAA… Selesai deh!

“Sayang, kamu cantik sekali,” tanggap Mama tulus.

Baru saja aku akan menjawab, saat Papa menyela, “Lumayan, tapi kayaknya make-up kamu terlalu mencolok. Ya sudah, kita berangkat sekarang.”

Dasar Papa! Dari dulu memang paling jago buat orang jadi down. Aku jadi merasa kurang percaya diri.

Kami sampai di XYZ Restaurant. Teman Papa belum datang, jadinya kami nggak mesan makanan dulu. 15 menit terlewat. Namun, teman Papa tak kunjung datang. Aku mulai uring-uringan. Mama menepuk pelan lenganku tepat saat teman Papa, Om Albert, datang beserta keluarga.

“Jon, maafkan saya. Sudah lama menunggu?” sapa Om Albert.

“Ah, belum lama. Kami juga baru sampai kok,” balas Papa.

APA?! Hello? ¼ jam sudah kita habiskan disini dan Papa bilang BARU SAMPAI?! Oh God. Help me please.

Mama menepuk lenganku lagi, menyuruhku untuk menjaga sikap.

“Ini pasti Laurie. Wah, kamu sudah gede sekarang.” Kini perhatian Om Albert beralih ke aku. Aku hanya mampu tersenyum.

“Tom mana? Kok nggak ada?” tanya Mama.

“Sepertinya dia masih di parkiran. Tadi dia yang bawa mobil,” jawab Tante Myra, istrinya Om Albert.

Aku menyikut Mama.

“Ma, Tom itu siapa?”

“Anaknya Om Albert.”

“Ooo…”

“Itu dia Tom,” ujar Om Albert.

Aku pun menoleh untuk melihat seperti apa Tom itu. Segendut Papanya atau sekecil Mamanya? Aku terperangah saat mendapati bahwa Tom adalah…

“Thomas?”

“Lauria?”

“Lho? Kalian saling mengenal?” tanya Om Albert.

“Laurie, kamu kenal Tom?” tanya Papa.

Tanpa kusadari, ternyata aku menjawab pertanyaan Papa persis yang dijawab Thomas ke Om Albert.

“Yah, dia temen satu sekolah aku. Tapi kami nggak sekelas,” jelas Tom a.k.a Thomas.

“Pa, dia temen satu sekolah aku. Tapi kami nggak sekelas,” jelasku.

Papa dan Om Albert saling memandang dengan ekspresi yang sama. Kemudian, Om Albert mengangguk. Aku jelas sekali bingung dengan tingkah mereka. Tapi hal itu tidak pada Tom.

“Baguslah kalau begitu. Jadi nggak repot lagi,” ucap Papa.

“Maksud Papa?” tanyaku.

“Lebih baik kita duduk dulu, pesan makanan. Nanti kita bicarakan lagi,” saran Mama.

Semuanya mengikuti saran Mama. Aku duduk, tapi mataku masih tertuju kepada Papa. Aku butuh penjelasan sekarang. Pelayan datang, dan memberikan daftar menu. Aku pesan beef steak dan orange juice. Saat pesanan datang, aku tidak terlalu bersemangat makan.

“Laurie, dimakan dong steak-nya. Nggak usah melamun dong,” tegur Mama pelan.

Aku hanya mengangguk. Kupandangi Tom yang tepat di depanku. Ia sepertinya santai-santai saja, tidak seperti aku yang penasaran setengah mati.

Selesai makan, mereka mulai membicarakan hal yang mungkin akan menjawab rasa penasaranku. Om Albert mengarahkan telunjuknya ke Papa, seakan meminta Papa saja yang bicara.

“Baiklah, saya akan mulai membicarakan masalah ini sekarang. Sebelumnya, saya mohon untuk tidak memotong pembicaraan saya sebelum saya selesai. Jika ingin bertanya atau interupsi, tolong utarakan hal tersebut setelah saya selesai bicara…,” begitu ucapan Papa. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.

“…Beberapa hari yang lalu, saya dan istri saya sudah membicarakan hal ini dengan Albert dengan istrinya. Dan karena sesuatu hal yang amat mendesak, saya menyetujui hal ini. Bukannya saya terpaksa untuk melakukan ini. Saya malahan senang dengan usul Albert. Dan usul itu adalah, kami akan menjodohkan kedua anak kami. Semoga semuanya bisa menerima hal ini. Terima kasih.”

Aku hanya bisa diam. Seluruh panca inderaku seakan mati rasa. Aku tidak bisa membantah walau aku ingin. Semua kejadian seakan-akan menjadi slow motion di mataku. Semuanya bertepuk tangan dan menunjukkan ekspresi gembira. Bahkan Thomas juga, walaupun ia tak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Hal selanjutnya yang aku tahu, Om Albert dan Tante Myra menyalamiku. Diikuti dengan Papa-Mama. Saat kami berpisah, Om Albert menyuruh Thomas untuk pamit denganku. Thomas patuh, dan mencium tangan kananku. Sedangkan aku? Masih terdiam layaknya orang bloon. Saat di mobil, barulah semua inderaku kembali berfungsi.

“Mama duduk di belakang sama Laurie aja, ya,” pintaku. Mama menuruti keinginanku.

Saat mobil mulai jalan, kupeluk Mama dan menangis.

“Ma… Hiks hiks…  Kenapa Laurie dijodohin? Laurie ‘kan masih muda. Baru 16 tahun. Huhuhu.”

“Nanti di rumah Mama jelasin, ya, Sayang. Jangan nangis dong.”

“Huhuhu… Laurie nggak mau nikah muda, Ma. Hiks hiks…”

“Kamu ini ngomong apa sih? Siapa yang nyuruh kamu nikah muda? ‘Kan kamu cuma dijodohin, bertunangan dengan Tom. Itu aja.”

“Tapi, Ma… Hiks hiks… Dia itu beda agama sama kita. Huaa…”

“Sudahlah Laurie. Papa yakin kalau kamu tahu masalah yang sebenarnya kamu pasti mau menerimanya.”

Aku kembali terdiam. Sebesar apa sih masalah yang menimpa Papa-Mama sampai harus menjodohkan aku segala? Ya Tuhan, sebenarnya masalah apa yang menimpa keluargaku saat ini?

Ж

Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasanya. Seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa semalam. Selesai sarapan, aku pamit pergi ke sekolah. Walupun pikiran masih sangat kacau, tapi aku berusaha tampil sebiasa mungkin di depan orang tuaku. Aku tidak mau menyusahkan mereka lagi. Aku tak mau membebani mereka lagi.

Sepanjang jalan ke sekolah, aku hanya diam di mobil. Tak melakukan apa-apa selain menyetir. Padahal biasanya aku sibuk memutar CD lagu-lagu favoritku. Namun kali ini, mobilku sunyi senyap. Bahkan aku hampir menabrak seorang kakek-kakek yang menyeberang jalan karena aku melamun.

Di sekolah, aku hanya merenung. Kuresapi kata-kata Mama kemarin malam.

“Laurie, Mama sama Papa terpaksa melakukan ini demi kamu. Singkatnya, perusahaan Papa mengalami masalah dan terancam akan bangkrut. Bila hal itu terjadi, siapa yang akan membiayai hidup kita? Untunglah Om Albert mau membantu. Tapi dengan syarat, kamu harus mau dijodohin dengan Tom. Setelah Mama dan Papa pikir-pikir, nggak ada salahnya juga menjodohkan kamu dengan dia. Lagian, kita juga sudah tahu seperti apa anaknya. Toh kamu dengan dia juga sama-sama masih single.”

“Woi, Neng! Kau kenapa? Melamun saja dari tadi,” kejut Vella, sahabatku, dengan logat Bataknya.

“Nggak kok. Lagi ada masalah aja,” jawabku sekenanya.

“Masalah sama siapa lagi? Sama si Reinald kah? Heran deh kalian ini. Baru saja jadian 3 minggu sudah berantem. Ckckck,” tanggap Vella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sok tahu! Aku ada masalah keluarga. Cuma masalah kecil kok.”

“Ya sudahlah. Lebih baik kau temani aku ke depan kelas. Kita duduk-duduk saja di situ. Gimana?”

Aku mengangguk mengiyakan. Vella langsung menarik tanganku keluar kelas. Kami langsung duduk di pinggir selasar kelas. Begitu duduk, kudengar Vella seperti memekik tertahan. Aku langsung tahu arti bila ia bersikap seperti itu.

“Ya Tuhan, si Thomas itu cakep amat sih? Ckckck.”

Satu lagi alasan mengapa aku menolak perjodohan ini: Vella menyukai Thomas! Sebagai seorang sahabat, tentu saja aku tidak ingin menyakiti hatinya. Untuk itu aku memiliki 3 alasan aku menolak perjodohan:

  1. Aku memiliki prinsip untuk tidak menjalin hubungan spesial lebih dari teman dengan lawan jenis yang berbeda agama. Dan Thomas termasuk ke dalamnya.
  2. Vella, sahabat yang amat kusayang, menyukai-bahkan mungkin sudah mulai mencintai-Thomas.
  3. Yang paling penting, aku sudah punya PACAR! Dan aku sangat menyayangi pacarku itu.

Saat aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, aku tak sadar dengan tingkah aneh Vella. Ternyata Thomas berjalan ke arah kelas kami! Padahal kelasnya berada 1 lantai di atas kelas kami.

“Lauria, bisa kita ngomong sebentar?”

Aku kaget. Sedangkan Vella kaget-kaget senang.

“Bisa. Di situ saja, ya?” pintaku seraya menunjuk ke arah ujung selasar.

Thomas mengangguk. Aku beranjak dan segera berlalu dari hadapan Vella.

“Ada apa?” cecarku langsung.

“Masalah kemarin, sudah kamu pikirkan?”

Tepat dugaanku! “Sudah. Dan aku memutuskan untuk… menolak perjodohan ini,” ucapku mantap.

“Kamu yakin? Kamu sudah tahu konsekuensi jika kamu menolaknya? Dan kamu yakin kamu dan keluargamu sanggup menghadapi segala konsekuensi yang ada?”

Aku kaget. Aku tak menyangka Thomas akan menjawab seperti itu. Kupikir dia akan menerima apapun jawabanku. Ternyata…

“Aku yakin, orang tuamu pasti sangat berharap padamu. Mereka pasti sangat berharap kamu menyetujui perjodohan ini.”

Terbayang di benakku wajah Mama dan Papa silih berganti. Betapa kecewanya mereka bila aku menolak perjodohan mereka.

Seusai berkata seperti itu, Thomas berlalu. Sesaat aku tersadar dan mengejar Thomas.

“Thomas!”

Thomas menghentikan langkahnya, namun ia tak berbalik. Kuhentikan lariku saat tepat berada di belakangnya. Kuatur nafasku.

“Thomas… Hhh… Hhh… Aku setuju. Tapi… Hhh… Hhh… Jangan sampai teman kita tahu masalah ini.”

Thomas berbalik dan tersenyum.

“Terima kasih atas pengertian kamu. Satu hal lagi, kenapa kamu menolak perjodohan ini? Apa karena kita beda agama? Asal kamu tahu saja, aku bersedia pindah ke agama kamu supaya memenuhi persyaratan kamu itu. Ayah sama Ibu juga setuju dengan keputusanku. Sekali lagi, terima kasih.”

Thomas menunduk santun, kemudian berlalu begitu saja. Aku masih membatu di tempatku berdiri. Aku tak menyangka masalahnya akan serumit ini.

Ж

Satu bulan kemudian…

“Happy birthday, Sayang,” ucap Mama saat aku baru membuka mataku.

“Happy birthday, Laurie. Tak terasa kamu sudah 17 tahun sekarang,” giliran Papa mengucapkan selamat kepadaku.

“Terima kasih, Ma, Pa,” balasku.

Lalu, Mama dan Papa mengecup kedua pipiku. Aku hanya tersenyum menanggapi kelakuan Mama-Papa.

“Kamu sudah membagikan undangannya, ‘kan?”

“Beres, Pa. Kemarin undangannya udah kubagiin semua,” jawabku.

“Ya sudah. Sekarang cepat mandi, terus berkemas. Kita harus ambil gaun yang mau kamu pakai sekalian kita ke salon. Cepetan gih,” ujar Mama.

“Iya, Ma.”

Aku bergegas mengerjakan yang disuruh Mama. Hari ini aku semangat sekali. Bagaimana tidak? Tepat pukul 19.00 nanti, aku akan merayakan my sweet seventeenth di rumah.

Seusai sarapan, aku dan Mama langsung ke butik langganan Mama untuk mengambil pesanan gaunku. Setelah itu, aku akan dibawa Mama ke salon untuk di make-up dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pokoknya, hari ini aku serasa putri-putri di negeri dongeng. Sepanjang hari aku tersenyum sumringah. Mama terkadang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Mama tidak tahu kalau rencananya malam ini juga aku akan mengenalkan Reinald kepada Mama-Papa. Sekaligus merayakan tepatnya 2 bulan sejak kami jadian.

Sekitar pukul 16.30, aku selesai di make-up. Mama melarangku untuk melihat pantulan wajahku di cermin. Kejutan, katanya. Aku menurut. Berhubung jalanan Bandung hari ini cukup padat, aku baru sampai di rumah pukul 18.00. Untung aku sudah memakai gaun saat di salon tadi.

Tepat pukul 19.00, acara dimulai. Para tamu berdatangan semakin ramai. Aku celingak-celinguk mencari Reinald. Tak lama, kudapati Vella baru datang. Langsung kuhampiri Vella.

“La… Vella…” panggilku.

“Lauria? Kamu cantik banget,” ujar Vella tulus.

“Beneran?”

“Kamu kok nggak pede amat sih?”

“Bukannya nggak pede. Mama ngelarang aku untuk bercermin. Makanya aku nggak tahu dandananku ini bagus atau menor.”

“Hah? Yang bener? Lebih baik kamu bercermin sekarang. Tanya Mamamu, kamu sudah boleh bercermin atau belum,” usul Vella.

“Sip. Yuk, ikut aku.”

Kutarik tangan Vella untuk mengikutiku. Aku berkeliling ruangan untuk mencari Mama. Ternyata Mama sedang berbincang-bincang dengan Tante Myra.

“Ma, Laurie sudah boleh bercermin belum?”

“Boleh dong, Sayang.”

“Laurie, kamu cantik sekali. Selamat ulang tahun, ya, Sayang. Tante yakin, Tom pasti akan terpesona begitu melihat kamu,” ucap Tante Myra.

“Eh… Terima kasih, Tante. Laurie permisi dulu.”

Aku sedikit kaget dengan ucapan Tante Myra. Aku juga bersyukur karena Vella tidak tahu kalau Tom itu adalah Thomas.

“Tom itu siapa?” tanya Vella.

“Oh… Tom itu anaknya Tante yang tadi ngucapin selamat ke aku. Anaknya itu masih kecil, sekitar 5 tahunan lah. Dia udah kuanggap adikku sendiri.” Aku terpaksa berbohong.

Untung Vella hanya mengangguk, tidak bertanya lagi. Tak lama, ponsel Vella berdering. Ada panggilan masuk.

“Halo?… Ada nih. ‘Bentar, ya?” ujar Vella, kemudian menyerahkan ponselnya ke tanganku.

“Dari Reinald,” jawabnya saat kukerutkan keningku.

“Halo? Reinald?” sapaku.

“Halo, Bebek. Selamat ulang tahun, ya,” balas Reinald lembut.

“Bebek… Bebek… Memangnya suaraku ‘kwek-kwek’?”

“Kamu ini udah sweet seventeenth kok cerewetnya nggak ilang-ilang sih?”

“Biarin. Dulu ‘kan kamu juga yang bilang kalau aku lagi ngomong ekspresinya lucu banget. Kok belum datang? Udah dari tadi kutungguin.”

“Itu dia. Tadi sore aku ada sms kamu bilang kalau aku hari ini kayaknya nggak bisa datang. Kamu nggak ada balas. Kupikir kamu ngambek sama aku. Pas kutelepon, nggak diangkat-angkat. Makanya kutelepon Vella,” jelas Reinald.

“Kamu nggak bisa datang? Yah, padahal rencananya hari ini aku mau ngenalin kamu ke Mama sama Papa. Masalah ponsel, aku dari pagi tadi emang nggak ada megang ponsel, makanya aku nggak tahu.”

“Maaf, ya. Kalau bisa aku usahain deh.”

“Nggak apa-apa kok. Aku bisa ‘ngerti.”

“Sudah dulu, ya. Bye.”

“Bye.”

Begitu aku mengembalikan ponsel Vella, Mama memanggilku untuk ke depan karena acaranya sudah dimulai. Di depan juga sudah ada Papa dan MC yang akan membawa acara. Seperti acara ulang tahun pada umumnya, kami menyanyikan lagu “Happy Birthday”, “Selamat Ulang Tahun”, diakhiri dengan lagu “Tiup Lilinnya”.

Setelah itu, aku meniup lilin dan memotong kue dibantu Mama. First cake-ku tentu saja buat Mama dan Papa. Second cake-ku jatuh kepada Vella. Saat waktu makan, Papa meraih mic dari MC. Kupikir Papa akan mengucapkan terima kasih dan segala ucapan yang biasa diucapkan oleh orang tua kepada para undangan.

“Selamat malam. Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih kepada semua undangan yang hadir, yang sudah meluangkan sedikit waktunya untuk hadir di acara ulang tahun anak saya, Lauria Frederica Granule. Sekali lagi, terima kasih…”

Para undangan bertepuk tangan. Aku juga.

“…Selanjutnya, saya akan mengumumkan satu hal. Tiap manusia pasti mempunyai masalah. Ada yang bisa dihadapinya sendiri dan ada yang membutuhkan orang lain untuk menghadapinya. Dan saat ini, saya termasuk ke dalam kategori yang kedua. Saya membutuhkan uluran tangan orang lain untuk menghadapinya. Tapi, syukurlah, masalah ini sudah terselesaikan oleh Lauria, putri satu-satunya yang kami banggakan. Berhubung ada acara seperti ini, sekalian saja saya ingin mengumumkan pertunangan anak saya dengan salah satu anak sahabat saya, Albert. Mungkin teman-teman Lauria sudah tahu-bahkan mungkin sudah mengenal-tunangan Lauria ini. Dia adalah… Thomas Aditya Stevano.”

Semua undangan kembali bertepuk tangan. Mataku melebar. Kupandangi Papa. Mama menarik tanganku mendekat ke arah Papa. Disana sudah menunggu Om Albert, Tante Myra, dan Thomas. Ini yang kutakutkan. Kenapa harus sekarang? Aku teringat Vella. Kuedarkan pandanganku mencari sosok Vella. Dan mataku menangkap sosok Reinald berdiri di ambang pintu. Wajahnya mengeras. Di belakangnya berdiri Vella dengan sorot mata tak percaya. Lalu mereka pergi begitu saja.

Aku refleks melepaskan tanganku dari pegangan Mama dan berlari mengejar Reinald dan Vella. Aku tak peduli dengan tatapan para undangan.

“REINALD!” teriakku saat di parkiran. Sedangkan Vella sudah menghilang.

Reinald tak jadi masuk ke mobilnya, dan menutup pintu mobil. Aku berlari menghampiri.

“Ada apa lagi?” tanyanya dingin. Aku berani bersumpah ini bukanlah Reinald yang selama ini kukenal. Semarah apapun dia kepadaku, dia takkan sedingin ini kalau bicara.

“Rei, tolong dengerin aku dulu. Biar aku jelasin.” Air mataku mulai menetes.

“Penjelasan apa lagi? Tentang pertunangan kamu dengan Thomas? Aku rasa penjelasan dari Papamu tadi udah cukup buat aku. Udah cukup buat aku sama Vella tahu kalau kamu itu munafik!”

“Rei, masalahnya nggak semudah itu. Aku dijodohin, Rei. Dijodohin. Ini bukan karena kemauan aku. Sebenarnya udah dari waktu itu aku mau ngebahas masalah ini dengan kalian…”

“Tapi nggak kamu lakuin, ‘kan? Kenapa kamu nggak cerita sama aku? Kalau dari awal kamu beritahu aku, mungkin aku bisa bantu kamu. Aku kecewa sama kamu. Aku pikir kamu percaya sama aku. Tapi ternyata, aku salah!”

“Aku percaya sama kamu, Rei.”

“Kalau percaya, terus kenapa kamu nggak cerita?! Jangankan sama aku. Sama Vella yang udah kayak saudara kamu sendiri aja kamu nggak cerita. Sudahlah, Laurie. Aku capek. Aku mau pulang. Lagipula, aku jelasin sekarang juga udah terlambat. Toh pada akhirnya kamu bakalan sama dia juga. Nggak dengan aku.”

Reinald melepas genggaman tanganku kemudian pergi begitu saja dengan mobilnya. Aku jatuh terduduk. Badanku lemas. Seluruh organ di tubuhku seakan tak menjalankan tugasnya. Dadaku sesak, menahan tangis sejak tadi. Hingga akhirnya semua luruh. Dan aku menangis ditemani malam yang kala itu bertolak belakang dengan perasaanku.

Ж

Esok paginya, Thomas memaksaku menemui Reinald. Ia merasa ikut andil dalam masalah ini. Aku mengiyakan, dan mengikutinya.

Sesampainya disana, Reinald sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya yang luas.

“Reinald.”

“Laurie? Kamu dengan sia…” Lalu, pandangannya teralih ke arah Thomas.

“Ngapain kamu disini?! Kamu juga, Laurie. Ngapain kamu bawa-bawa dia kemari?!”

“Heh! Aku sama Laurie datang kesini baik-baik, ya.”

“Stop! Bisa nggak kalian ngomongnya baik-baik? Malu tahu nggak kalau sampai diliatin orang tuanya Rei.” Aku melerai mereka.

“Ya sudah. Kita ngomong di mobil sambil jalan. Nggak enak juga kalau disini,” usul Thomas.

Kami mengikuti usul Thomas. Mobil dikendarai oleh Thomas, dengan Reinald duduk di kursi samping supir. Aku duduk di belakang. Mobil melaju ke arah jalan raya. Sepanjang perjalanan, Reinald dan Thomas perang mulut sampai sesekali aku harus ikut turun tangan melerai mereka.

Tanpa sadar, karena terbawa emosi, Thomas menginjak pedal gas semakin lama semakin dalam. Mobil semakin melaju. Jarum di speedometer semakin naik. Tapi, tidak salah satu di antara kami bertiga yang menyadari itu. Hingga akhirnya aku tak tahan dengan pertengkaran mereka.

“STOP KALIAN BERDUA!”

TIIIN TIIIN… CIIIT… BRAAKK!!!

Ж

“Pagi hari ini, kita semua sedang berduka atas meninggalnya murid sekaligus teman yang sangat kita sayangi. Yaitu, Lauria Frederica Granule, Jeremy Reinaldy Farro, dan Thomas Aditya Stevano. Semoga arwah dan amal kebaikan mereka dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Amin.”

END

Pertunangan Semu

Published April 7, 2011 by Icha Hyora

Ternyata tidak semua impian yang selama ini kita inginkan akan menjadi kenyataan. Walaupun kita sudah mempunyai kesempatan itu, kita selalu menyia-nyiakannya sehingga menyebabkan hati kita sangat terluka, seperti kisah yang satu ini.

Sepulang dari kantor, Shyra menemukan sebuah amplop yang terletak di depan pintu rumah yang dialamatkan untuknya. Ia lalu mengambil amplop itu dan berjalan masuk ke rumah menuju kamarnya. Ia membuka amplop di tangan yang ternyata berisi…

“Oh, undangan reuni SMA. Aku pikir surat dari siapa,” ujarnya. “Kalau ada acara reuni, berarti aku bakalan ketemu dia lagi. Kira-kira dia udah punya gandengan belum, ya? Atau istri?”

Detik berikutnya, ia kembali terbawa akan masa sewaktu ia masih duduk di bangku SMA, sekitar 8 tahun silam. Saat itu ia menyukai seseorang. Tapi, entah mengapa ia tidak bisa berbuat apa-apa dan mengapa rasa itu masih membekas di hatinya hingga kini. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati? Ia tidak tahu dan ia pun tidak mau tahu.

♥♥♥

SMA 31 Jakarta merupakan SMA tempat ia dulu bersekolah. Disana ia menjalin persahabatan dengan Karine, temannya sewaktu kecil. Mereka sudah seperti kakak-adik. Shyra selalu menceritakan tentang dirinya kepada Karine, mulai dari keluarga sampai perasaan. Jadi, bisa dibilang Karine mengetahui semua tentang Shyra.

Matteo adalah cowok yang Shyra suka selama ia SMA hingga kini. Ia masih belum mengerti mengapa ia tidak bisa menghilangkan sosok Matteo dari ingatannya, juga benaknya. Ia ingat, dulu Karine pernah menyuruhnya untuk menembak Matteo duluan.

“Apa kamu bilang?! Kamu gila, ya? Mana ada sih cewek nembak cowok duluan. Iya kalau diterima, kalau nggak? Mau ditaruh dimana mukaku,” tanggap Shyra.

“Ra… Ra… Buat apa juga kamu minder. Kamu itu ‘kan cantik, pinter lagi. Cowok mana sih yang nggak suka sama kamu? Kalau kuperhatiin, sepertinya Matteo juga memiliki perasaan yang sama deh terhadapmu,” bujuk Karine.

“Sok tahu kamu. Sejak kapan kamu jadi paranormal, bisa ngebaca pikiran dan perasaan orang? Lagian, kamu ‘kan juga pernah bilang kalau perasaan cowok itu sulit ditebak. Mudah berubah-ubah gitu.”

“Iya juga, ya.”

“Jadi orang yang konsisten dong. Dasar!” ejek Shyra.

“Eh, tapi kali ini beda. Cara dia mandangin kamu itu kelihatan banget kalau dia juga ada feel,” bela Karine.

“Udah ah. Nggak penting, lagi,” balas Shyra tak acuh.

“Tapi, Ra. Apa salahnya mencoba? Siapa tahu juga pengamatanku selama ini benar. Dan untuk itu, kamu mesti berterima kasih banyak ke aku karena telah membuka matamu amat sangat lebar,” cerocos Karine masih tak mau kalah.

“Karine! Just close your mouth, okay?” pinta Shyra.

Saat Karine ingin mencicit kembali, Matteo berjalan mendekati mereka. Karine menyikut Shyra. Eh, Shyra malah balas menyikut Karine.

“Hai, Shyra!” sapa Matteo.

“H-Hai,” balas Shyra nyaris tak terdengar. Rona-rona merah jambu mulai timbul di pipinya.

Matteo hanya tersenyum menanggapi reaksi Shyra. Karine sempat menangkap adanya kesan “malu-malu” saat Matteo menyapa dan tersenyum kepada Shyra. Namun ia tak terlalu yakin karena hal tersebut tidak benar-benar terlihat. Sesaat, ia tersadar akan kondisi sahabatnya yang masih seperempat sadar itu.

“Woi, Ra! Kamu masih di situ, ‘kan?” tanya Karine. Bahkan ia juga mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Shyra. Nggak cuma satu, tapi dua-duanya sekaligus.

“Ha? Apa?” jawab Shyra yang baru 65% pulih. Ternyata loading kesadarannya Shyra lama juga.

“Tuh, Ra. Kamu lihat sendiri, ‘kan? Jelas-jelas Matteo ada feel sama kamu. Udah ada bukti autentik gitu masih aja mau disangkal. Kamu itu buta atau nggak peka sih, Ra?” jelas Karine merasa menang.

Tunggu punya tunggu, tak ada reaksi dari Shyra. Saat Karine menoleh, Shyra sedang tersenyum sendiri alias masih belum pulih. Rona-rona merah jambu itu pun juga masih belum mau memudar dari pipi mulus dan putihnya Shyra. Kelihatan banget tuh anak masih mengepakkan sayap, melanglang buana entah ke negeri mana.

♥♥♥

“Sekaranglah saatnya aku mengungkapkan yang sebenarnya. Aku tak mau lagi kehilangan dia. Hhh… Aku hanya bisa berharap dia masih sendiri. Tapi, bila Tuhan memang berkehendak lain, apa mau dikata?”

Ternyata-tanpa Shyra ketahui-Matteo juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Sama seperti Shyra, ia tak berusaha sedikit pun untuk mendapatkan Shyra semasa SMA. Namun, ia bertekad akan menyatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Shyra saat reuni nanti. Ia tak mau lagi kehilangan kesempatan itu. Kesempatan emas yang mungkin takkan pernah datang berkunjung lagi.

♥♥♥

Sore itu, Shyra baru pulang dari toko perhiasan untuk mengambil cincin pesanannya, sebuah cincin tunangan. Di bagian dalam cincin itu, terukir nama ‘Matteo’. Maksud diukirkannya nama ‘Matteo’ adalah, ia selalu membayangkan dirinya dan Matteo bertunangan. Ia juga berencana akan memakai cincin itu saat reuni. Ia malu kepada teman-temannya karena ia masih lajang. Sedangkan teman-temannya yang lain sudah ada yang menikah, bahkan Karine sendiri sudah.

Tepat jam 7 malam, Shyra sudah siap berangkat ke tempat diadakannya reuni, Aula SMA 31 Jakarta. Selama perjalanan, hatinya tak karuan. Ia gundah. Berkali-kali ia bertanya dalam hatinya; Apa yang harus ia lakukan jika bertemu Matteo? Menyapanya atau pura-pura tidak mengenal? Seperti apa rupa Matteo sekarang? Apakah Matteo datang sendirian atau bersama seseorang? Jika ia bersama seseorang, ada hubungan apa antara Matteo dengan orang itu? Dan lain-lain hingga ia pusing sendiri.

Hatinya semakin tak karuan saat Chevrolet Spark miliknya memasuki pelataran parkir. Begitu menginjakkan kakinya di pintu masuk aula, ia disambut oleh Karine dan yang lainnya. Selang beberapa menit, mereka satu per satu pergi hingga tinggallah Karine dan Shyra berdua. Tapi Karine tahu Shyra sedang mencari seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah…

“Ra, Matteo ada di taman belakang. Temuilah. Mungkin ia juga sedang menunggu kehadiranmu,” ujar Karine.

Shyra menuruti ucapan Karine. Ia pergi ke taman belakang aula. Dan benar, Matteo memang berada disana dan terkesan sedang mencari seseorang.

“Hai! Apa kabar? Sendiri?” sapa Shyra.

“Hai juga! Aku baik aja kok. Kamu gimana? Sendiri juga?” balasnya. Sebagai jawaban, Shyra mengangguk. Untuk beberapa saat, mereka membisu hingga Matteo mulai buka suara lagi.

“Ra, kamu udah punya pendamping belum?”

“Oh. Aku…,” masih sendiri. Matteo, sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak SMA. Bukan menyukai, maksudku mencintai. Hingga saat ini pun rasa itu belum hilang. “…Udah. Ini cincin tunangannya. Kalau kamu?” jawab Shyra pada akhirnya. Baru saja ia ingin mengutuk kebodohannya, saat ia mendengar Matteo menjawab pertanyaannya.

“Udah juga. Ini cincin tunangannya,” kata Matteo seraya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ternyata, Matteo melakukan hal yang sama dengan Shyra. Ia juga memesan cincin yang berukirkan nama ‘Shyra’ di dalamnya.

Sontak Shyra menegakkan kepalanya, menatap Matteo. Seketika ia merasa tubuhnya mulai memelas, sedikit linglung. Pandangannya nanar. Ia juga merasa seolah-olah sebuah tangan besar sedang meremas hatinya, meremukkan dan menghancurkannya. Namun, di sela-sela kekecewaan hatinya, ia merasa sedikit bersyukur tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena bila itu terjadi, ia akan malu sendiri dan akan lebih sakit saat mendapati Matteo telah berdua.

“Well, tunanganmu mana?” tanya Matteo lagi.

“Maaf?” Susah sekali bagi Shyra untuk tetap connect di keadaan seperti ini.

“Tunanganmu kemana? Kok nggak ikut?” ulang Matteo.

“Oh, dia lagi keluar kota. Kalau tunanganmu sendiri mana?”

“Sebenarnya sih tadi ikut. Tapi ada panggilan mendadak dari kantornya.”

“Oh, gitu. Hmm… kalau kamu married nanti, jangan lupa ‘ngundang aku, ya.” Shyra berusaha agar ucapannya seceria mungkin, menutupi torehan luka dalam hatinya yang kian lama kian membesar dan dalam.

“Pasti,” jawab Matteo mantap.

“Aku permisi dulu. Mau nemuin yang lain,” pamit Shyra.

Matteo mempersilahkannya pergi. Shyra sudah tidak tahan lagi. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Baru beberapa langkah meninggalkan Matteo, pelupuk matanya tak mampu lagi membendung air mata yang sudah sejak tadi memaksa ingin menyelesak keluar.

Karine melihat Shyra setengah berlari keluar aula.

“Shyra! SHYRA!” panggilnya. Tapi, empunya nama sudah terlanjur menutup seluruh panca inderanya. Akhirnya, Karine memutuskan untuk mengejar Shyra. Ia berhasil menahannya saat di pelataran parkir, depan mobil Shyra.

“Ra, kamu kenapa?” tanya Karine panik. Tangan kanannya memegang lengan kiri Shyra. Ia bertambah panik lagi saat melihat make-up Shyra mulai luntur karena air matanya.

“Ra, kamu nggak kenapa-kenapa, ‘kan?”

“Rine, sekarang bukan saatnya buat cerita. Sekarang, tolong lepasin tanganku. Aku pengen sendiri saat ini. Please, Rine. I beg you. Please,” ujar Shyra memelas.

Karine pun melepaskan lengan Shyra. Ia tahu, bila sudah saatnya Shyra pasti akan cerita dengannya. Mungkin lebih baik bila ia membiarkan Shyra menyendiri dahulu. Walau ia masih belum tahu sebab-musabab sahabatnya bisa sesedih itu. Karena sepengetahuannya, Shyra merupakan tipe wanita yang tegar. Ia tidak cengeng dan mudah mengumbar air mata. Jadi, bila Shyra sampai menangis seperti itu, pastilah ada suatu yang “memakan” hatinya. Karine mengantar kepergian Shyra hingga mobilnya hilang ditelan pekatnya kegelapan malam.

“Matteo… Seandainya saja kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Seandainya saja kamu tahu kalau cincin yang kupakai ini berukirkan namamu. Seandainya saja tadi aku berterus terang padamu. Seandainya… Seandainya… Oh, aku sangat berharap pertemuan ini dapat menyatukan kita. Tapi, keadaan berkata lain. Ya, memang cinta tak harus saling memiliki. Tapi, mengapa ini harus terjadi kepadaku?” Shyra membatin.

♥♥♥

Sebelum pulang, Shyra singgah di taman dekat kompleks perumahannya. Ia duduk di kursi taman dengan cahaya lampu temaram. Ia melepaskan cincin dari jari manisnya sambil menangis tanpa suara. Dadanya sesak. Hatinya pilu. She’s absolutely feeling so blue. Cincin itu ia lempar dengan sisa tenaga yang ada. Ia ingin menghapus Matteo dari memorinya. Sampai ke detil terkecil sekalipun. Ia benar-benar ingin melupakannya.

♥♥♥

Sementara itu…

Matteo yang telah sampai di rumahnya juga melepaskan cincin di jarinya. Ia juga sakit, sesakit Shyra.

“Bodoh! Dasar pengecut!” makinya lebih kepada dirinya sendiri. “Kenapa aku jadi pengecut seperti ini? Kenapa aku jadi munafik begini? Kenapa aku membohongi diriku sendiri?” ratap Matteo, menyesali perbuatannya.

Dan mengapa ia telah mendua? batin Matteo lirih dan perih.

END

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.